Dirjen PKTrans dan Sekjen Mendampingi Menteri Desa PDTT Menerima Konsorsium Korea


  Kamis, 07 Juni 2018 Kegiatan Ditjenpktrans

Kemendesa PDTT Jalin Kerjasama dengan Konsorsium Korea Bangun Proyek Pembangkit Listrik Biomassa dan Pengembangan Industri Wood Pellet 

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjalin kerjasama dengan Konsorsium Korea (Koramco, Kepco, Gimco) untuk pengembangan industri wood pellet dan pembangkit listrik di Kawasan Transmigrasi Labangka, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kerjasama tersebut diharap akan mendorong percepatan 4 program prioritas Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi, antara lain ; 1) Penguatan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) di kawasan Labangka; 2) Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) sebagai lembaga pembiayaan dan pemasaran produk yang dihasilkan masyarakat sebagai plasma. Selain itu, berdampak terhadap tenaga kerja dan memunculkan usaha-usaha baru bagi masyarakat.

Dalam kerjasama kedua belah pihak akan dibuat pabrik wood pellet yang menyerap limbah dan bonggol jagung dari Kawasan Labangka. Selain itu juga ada hasil tanaman gamal atau kaliandra yang ditanam oleh masyarakat setempat. Hasil produksi wood pellet tersebut nantinya akan diekspor ke Korea Selatan untuk bahan bakar pembangkit listrik biomassa.

Dalam pertemuan yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Selasa (5/6/2018) Menteri Eko Putro Sandjojo menerangkan, Konsorsium Korea juga berniat membangun pembangkit listrik biomassa di Sumbawa. Investor tersebut akan membuat proyek pembangkit listrik biomassa dengan kapasitas pabrik sebesar 400.000 ton/ tahun dan tenaga pembangkit 30 MW. Tenaga tersebut akan diperoleh dengan menggunakan bahan bakar limbah jagung yang ditanam para petani setempat. Rencana investasi untuk pembangunan pabrik dan powerplant mencapai USD 400 Juta .

Menteri Eko sangat mengapresiasi dan mendukung penuh rencana proyek tersebut. Ia berharap keberhasilan kerjasama dengan Konsorsium Korea tersebut menjadi contoh kepada proyek-proyek lainnya di Indonesia. “Saya apresiasi dan sangat mendukung rencana proyek ini. Kita akan mengawal dari awal prosesnya. Kalau ada kesulitan diinformasikan. Prinsipnya mendukung, mengawal, dan menjembatani bila ada kesulitan di instansi lain. Saya berharap keberhasilan dari proyek ini jadi awal untuk diikuti proyek-proyek lainnya di Indonesia,” ujarnya

Dalam hitungan Konsorsium Korea, proyek ini akan memberikan pendapatan tambahan bagi para petani Labangka sekitar Rp 3 juta/ bulan dari penjualan limbah jagung yang dibeli oleh perusahaan dan dari pemberdayaan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja perhutanan sosial oleh perusahaan dengan luas 4.740 Ha. Lahan tersebut akan ditanami Gamal dan Kaliandra.

Bupati Sumbawa, M Husni Djibril yang juga hadir dalam pertemuan ini mengatakan, rencana investasi tesebut sejalan dengan program pemerintah kabupaten, yakni Gerakan Masyarakat Jagung Integrasi. Meski saat ini sudah tertanam di 96.667 Ha dan menghasilkan produksi 621 ribu ton lahan jagung, dirinya meyakini produksi jagung untuk tahun 2019 dapat memenuhi target 1 juta ton yang dibutuhkan pemerintah. Ia juga mengasumsikan limbah jagung yang dihasilkan dua kali lipat dari produksi jagung yaitu 2 juta ton.

Direktur Jenderal Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PKTrans), M. Nurdin mengatakan, proyek ini akan bekerjasama dengan BUM Desa untuk penyediaan plasmanya. Kerjasama bisnis antara pihak perusahaan, BUM Desa, dan Konsorsium Korea diharapkan akan mempermudah proses perizinan dari instansi/ dinas terkait yang berwenang.

"BUM Desa yang sudah terbentuk sejumlah 139 akan mengumpulkan limbah jagung untuk dikirim ke off taker. Pengelolaannya bekerjasama dengan pemerintah kabupaten dan akan sharing ke BUM Desa Kabupaten," ujarnya.

M. Nurdin juga menuturkan proyek ini diharapkan dapat merubah kondisi masyarakat setempat yang lebih sejahtera. Dengan adanya pengolahan limbah jagung yang diolah pabrik modern ini, energi terbarukan akan memberi kontribusi untuk mengurangi emisi karbon dari Tanaman Gamal atau Kaliandra.

“Pembelian limbah jagung yang dibakar oleh masyarakat tentunya ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proyek ini akan direplikasi ke desa-desa dalam bentuk powerplant skala kecil dengan bahan baku wood pellet,” tambahnya.

Perwakilan dari Konsorsium Korea yang juga CEO GIMCO, Mr. Sangsun Lee, mengapresiasi adanya kesempatan investasi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada Konsorsium Korea.

Pihaknya juga akan berbagi pemanfaatan teknologi sampah jagung dengan wood pellet agar dapat digunakan di tingkat desa. Dirinya pun berharap ke depan akan dibangun sebuah pelabuhan untuk memaksimalkan hasil produk agar bisa diekspor dan membantu percepatan groundbreaking.

"Sekali lagi komit supaya tanggal 9 September ini untuk groundbreaking bersamaan dengan kunjungan Presiden RI dalam rangka Sail MoyoTambora 2018," pungkas M.Nurdin.